Becak, moda transportasi beroda tiga. Satu roda dibelakang dan sepasang roda di depan. Berjalan dengan dikayuh seperti sepeda dan penumpangnya bisa dua orang duduk didepan. Pada jamannya becak merajai sebagai transportasi ibu-ibu yang pergi berbelanja. Namun di kota wisata seperti Jogjakarta atau Yogyakarta atau cukup Jogja saja atau sebutan yang lain, becak menjadi kendaraan eksotis yang bisa menjadi pilihan nyaman dan murah bagi pengunjung kota Gudeg.
Konon becak berasal dari kata bahasa mandarin “Be Chia” yang artinya kereta kuda. Yahhh…..mana kudanya?. Namun demikianlah kata ahli sejarah bahasa. Nurut aja deh. Ga jelas demikian keterangan yang didapat saat kita mencari asal-usul becak. Ada yang bilang moda transprotasi tanpa polusi ini didatangkan dari Singapura pada tahun sekitaran 1930. Namun ada pula catatan yang mengatakan model becak ini pertama kali dirangkai di Makassar pada tahun-tahun sebelum Jepang menyerbu Hindia Belanda. Konon ceritanya ada toko penjual sepeda di kota anging mamiri yang kolaps karena sepi pembeli. Akal punya akal (kan ada “usut punya usut”) pemilik toko mengotak-atik sepeda yang menumpuk menjadi kendaraan roda tiga yang dikemudian tahun (kan ada “kemudian hari”) memusingkan gubernur Jakarta karena didakwa menjadi biang kemacetan kota yang di suatu masa dipimpin seorang pemimpin fenomenal bernama “Ahok”. Nah….ini dia yang perlu kita patenkan bila benar becak karya orang Indonesia. Jangan sampai becak diaku-aku tetangga kita yang suka gaduh.
Kembali ke pokok perbincangan, waktu penulis masih kecil (sekarang sudah tua) becak diangkat sebagai tema lagu anak yangg sangat populer berjudul “BECAK”. Diceritakan dalam lagu, becak adalah kendaraan istimewa untuk bertamasya keliling kota. Nah becak istimewa ini (tapi masih kalah jauh istimewa jika dibandingkan Jogja lho) masuk kota Wonosari, kabupaten Gunungkidul (kota kecil nan cantik di sebelah tenggara kota Jogja tempat penulis tinggal semasa kecil) pada tahun kira-kira 1974. Di tahun itulah penulis bisa merasakan transportasi istimewa keliling desa, karena Wonosari belum menjadi kota saat itu. Jadi becak masuk kota Jogjakarta kira-kira tahun 1970 begitulah, sangat sedikit yang tahu tepatnya hari apa dan tanggal berapa becak masuk kota Jogja.
Pada saat ini jangan berharap anda bisa menikmati tamasya naik becak keliling Jakarta. Bila nekat dilakukan bisa-bisa dipelototi dan diceburin kelaut oleh Satpol PP Betawi yang terkenal tegas dan disiplin (hehehe biar tidak terkesan mengerikan). Nah di kota istimewa Yogyakarta inilah moda transportasi istimewa ini menemukan tempat yang aman dan nyaman. Dengan cerdiknya si “becak” mengangkat Sri Sulatan HB X menjadi pengayom dan pelindungnya. Janganlan satpam, hansip dan satpol PP, polisi pun tidak akan berani menghalangi bila Sinuhun sudah bersabda. Alhasil, siapapun bisa menikmati kendaraan roda tiga yang dikayuh “mas becak” ini (di Jakarta kan ada sebutan “Abang Becak”).
Yogyakarta mungkin satu-satunya kota besar yang bisa menerima kendaraan lemot ini. Hanya orang sabar dan berfalsafah “alon-alon waton kelakon” seperti masyarakat Jogja yang mampu memahami dan memaklumi alat transportasi yang diusir dari ibu kota Jakarta ini. Ditangan masyarakat Jogja yang istimewa dan kreatif inilah becak mengalami pergeseran fungsi menjadi kendaraan wisata yang eksotis. Dengan keramahan dan ketulusan becak bisa lapangan kerja yang hasilnya tidak kalah dengan taksi modern. Banyak cerita seorang mas becak atau tukang becak di Jogja yang selalu mendapatkan pengahasilan lebih karena kepintarannya melayani wisatawan kaya yang ingin berbelanja. Pernah juga ada cerita seorang mas becak bisa merebut hati gadis cantik dari Jepang yang kaya raya.
Bila anda mengunjungi kota Jogja, jangan lupa, nikmatilah jasa becak ini. Hampir semua orang berpendapat alat transportasi ini tidak membuat mabuk seperti kendaraan bermesin dan anda dijamin tidak akan mengalami “jet lag” kemungkinan hanya mengalami “becak lag” alias ketiduran dibecak karena semilirnya angin.

<< KEMBALI


Technophoria News

Kantor Technophoria

komplek ruko gatik

Peta Lokasi Kantor


Lihat Technophoria Jogja pada peta besar

Alamat Kantor

TECHNOPHORIA Jogja
Komplek Ruko Graha Strategic (GATIC)
Jl. Perumnas 83, Seturan, Catur Tunggal, Depok Telp. (0274) 4469037, 4469039 Yogyakarta
Email: info@technophoriajogja.com

Staf Technophoria Jogja